Gerakan Penghijauan Di Provinsi Banten

Masyarakat Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, diminta melakukan gerakan penghijauan dengan menanam di lahan konservasi untuk mencegah bencana longsor di daerah itu. "Kami yakin gerakan penghijauan di lahan konservasi itu dapat mencegah longsor tanah saat curah hujan tinggi," kata Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan (Dishutbun) Kabupaten Lebak Kosim Ansori di Lebak, Kamis.

Ia mengatakan saat ini lahan konservasi di Kabupaten Lebak cukup banyak karena merupakan kawasan daerah hulu. Lahan konservasi itu diantaranya kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) lahan konservasi milik adat Baduy, lahan konservasi adat kaolotan.

Selain itu juga lahan konservasi yang berada di kawasan Perum Perhutani, Perkebunan Nusantara dan milik rakyat. "Semua lahan konservasi itu tahun ke tahun terus dilakukan gerakan penghijauan guna mencegah bencana alam," katanya.

Menurut dia, gerakan penghijauan di lahan konservasi tersebut untuk menghindari bencana alam, seperti yang terjadi di Banjarnegara, Provinsi Jawa Tengah hingga menimbulkan korban puluhan orang. Sejumlah masyarakat Kabupaten Lebak mengaku bahwa mereka mendukung gerakan penghijauan di lahan-lahan konservasi maupun daerah aliran sungai.

Sebab gerakan penghijauan itu bisa mendorong pendapatan masyarakat karena produksi kayu saat ini cukup tinggi. "Kami selama lima tahun bisa produksi kayu albasia seluas satu hektare dengan pendapatan sekitar Rp250 juta," kata Aman, petani warga Cijaku Kabupaten Lebak.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel