Ratusan sopir mobil rental memblokir jalan

Ratusan sopir mobil rental memblokir jalan masuk ke Bandara Internasional Sultan Hasanuddin, Maros, kemarin. Aksi pemblokiran tersebut dilakukan sopir mobil rental menyusul tidak diberikan akses untuk mengangkut penumpang di dalam bandara. Padahal hampir semua sopir mengaku telah membayar sekitar Rp5-15 juta ke PT Angkasa Pura. Pembayaran itu bekerja sama dengan beberapa perusahaan, seperti Perusda Kabupaten Maros, Kareba, dan Bam.

Berdasarkan kerja sama tersebut, para sopir mengaku PT Angkasa Pura memberikan jaminan, jika telah menyetorkan sejumlah uang para sopir boleh mengambil muatan di dalam Bandara Sultan Hasanuddin. Namun kenyataan di lapangan berbeda, para sopir rental dilarang mengambil penumpang di dalam bandara. Malah beberapa hari lalu, PT Angkasa Pura melakukan penertiban sopir angkutan.

Tercatat sekitar 100 sopir yang telah menyetor uang ikut dikenakan sanksi. Bahkan sampai diusir dan dilarang mengambil penumpang. Koordinator lapangan (korlap) Asosiasi Angkutan Khusus Bandara, Anton menuturkan, penertiban sopir angkutan khusus bandara yang dilakukan PT Angkasa Pura salah, karena menyalahi aturan yang telah disepakati bersama.

“Kami menuntut PT Angkasa Pura untuk memperbolehkan para sopir angkutan khusus kembali beroperasi di bandara. Bila tidak, maka itu sudah termasuk penipuan,”ujarnya. Dia pun meminta PT Angkasa harus mengambil langkah tegas untuk memberikan sanksi kepada perusahaan yang sengaja melakukan tindakan penipuan dengan menyuruh menyetorkan kuitansi pembayaran asli kepada perusahaan setelah para sopir membayar sejumlah uang.

Salah satu sopir mobil angkutan khusus bandara, H Musi mengaku, kecewa dengan PT Angkasa Pura yang telah menertibkan sopir mobil rental. Dia beralasan telah memenuhi semua persyaratan PT Angkasa Pura dan menyetorkan uang senilai Rp5 juta. “Kami menuntut untuk hak kami dikembalikan. Kami berharap tim negosiasi bisa mencapai kesepakatan supaya bisa kembali mencari nafkah di bandara, “ sebutnya kepada wartawan kemarin.

Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) General Manager PT Angkasa Pura I Syamsul Alang yang dimintai keterangan, enggan berkomentar kepada wartawan yang telah menunggunya beberapa jam. Dia hanya berlalu dan diam saat hendak dikonfirmasi terkait aksi tersebut. Sedangkan, mantan Direktur Utama Perusahaan Daerah Maros Machmud Oesman ketika dikonfirmasi mengakui, bekerja sama dengan perusahaan Kareba.

Dalam kerja sama tersebut hanya ada 10 unit kendaraan yang beroperasi sesuai izin Perusda dan Angkasa Pura pada 2007. “Jika ada kelebihan kendaraan yang digunakan Kareba itu bukan tanggung jawab kami. Kami pun tidak pernah menerima uang jaminan dari pemilik kendaraan tersebut,” ungkapnya.

Dia mengungkapkan hanya mendapat retribusi saja. “Sekali kendaraan memuat penumpang Perusda hanya mendapat Rp2.500 saja. Di luar itu tidak ada lagi, termasuk uang jaminan.Jadi kalau pihak sopir menuntut Perusda Maros, saya kira tuntutan itu salah sasaran,” kata Mahcmud.

Dia mengakui bahwa sejak 2007 usaha rental caryang dikerjasamakan di Bandara Sultan Hasanuddin lama, kendaraan yang digunakan keraba sudah melebihi 30 unit dari 10 unit yang diizinkan. Namun, Machmud mengaku tidak bertanggung jawab atas kelebihan itu. Aksi penutupan jalan di pintu gerbang menuju Bandara Sultan Hasanuddin selama 4 jam mulai pukul 11.00 Wita sampai 14.00 Wita, membuat ruas jalan tol dan Makassar- Maros macet total.

Kendaraan baru bisa masuk ke Bandara Sultan Hasanuddin setelah Kapolresta Maros AKBP Ferdinan Pasaribu turun langsung dan mengerahkan 500 personel untuk mengatur lalu lintas dan meminta massa membuka jalan akses bandara. Demikian catatan online Asurano yang berjudul Ratusan sopir mobil rental memblokir jalan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel