Mantan pemain PMS Makassar

Mantan pemain PMS Makassar mengkritik manajemen PSM yang dinilai lamban mendatangkan pemain asing dan pelatih kepala. Pengamat sepak bola Makassar sekaligus mantan pemain PSM era 80-an, Sumirlan, mengaku kecewa dengan komentar-komentar manajemen PSM yang terlalu heboh mendatangkan pemain asing, namun tak ada yang terbukti.

Sebaiknya manajemen hentikan dulu komentar soal mendatangkan pemain. Terlalu banyak calon pemain yang disebut tapi tidak ada yang terealisasi.Kasihan publik dan pembaca berita. Mereka tentu kecewa karena menunggu yang tidak pasti,” ujarnya kepada HATTRICK kemarin. Dia juga menyarankan agar yang berhak berkomentar tentang teknik tim dan pemain adalah tim pelatih.

Di sisi lain,Sumirlan juga mengkritik langkah manajemen yang membentuk tim tanpa pelatih kepala. Seharusnya pelatih kepala yang diprioritaskan datang bergabung. Selanjutnya,pelatih kepala yang akan menentukan komposisi tim dengan memilih pemain sesuai seleranya.“Saya ini pemain bola dan paham bola. Jadi, saya paham seperti membentuk tim itu,”tandasnya.

Tak hanya itu, Sumirlan berharap pengurus PSM merombak kembali struktur manajemen PSM yang ada saat ini. PSM kini sudah berbentuk badan hukum atau perseroan terbatas (PT). Karena itu, orang yang ditunjuk sebagai pengelola atau manajemen di dalamnya tidak terikat dengan lembaga, organisasi, atau instansi lain.

“Namanya juga PT, sudah berbentuk perusahaan, maka harus diberikan kepada orang yang benar-benar paham mengelola PT itu.Dan yang terpenting adalah harus mengerti sepak bola, ”tandasnya. Begitu juga dengan jabatan sebagai direktur perusahaan atau di PSM disebut sebagai General Manager (GM). Menurut Sumirlan, era reformasi sepak bola saat ini harus dijadikan momentum untuk membangun dan memajukan sepak bola, khususnya klub PSM Makassar.

Terkait nasib PSM yang kini dikuasai oleh konsorsium Liga Primer Indonesia (LPI) sebesar 70%, Sumirlan sangat berharap ada putra daerah terbaik di Sulsel yang bersedia membeli saham PSM di LPI. Setidaknya, minimal 40–50% harus dibeli kembali dari konsorsium.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel