Tiga bulan terakhir

Tiga bulan terakhir, sejumlah pengusaha stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kota Palembang mengeluh rugi puluhan juta rupiah setiap bulan akibat harga Pertamax yang terus melambung. Bahkan, kabar terakhir, harga Pertamax mencapai Rp9.350/ liter dan membuat konsumen beralih ke BBM premium. Penanggung jawab SPBU Romi Herton 24.301149 Arif Budiman mengatakan, kerugian yang diderita pihaknya terjadi karena keuntungan dari menjual BBM Pertamax terus tergerus. Jika pada Januari 2011 mereka masih mampu menjual 70–80 kiloliter (kl)/bulan, kini total BBM yang terjual merosot menjadi 40 kl saja. “Kalikan saja biasanya 60 kl sekarang jadi 40 kl, sekitar Rp6 jutaan/ bulan karena per liter keuntungan kita sekitar Rp300,” kata Arif kemarin.

Menurut Arif, hal ini juga bisa terlihat jelas dari penjualan per hari,di mana kini SPBUnya hanya mampu menjual 2.000 liter dari kondisi normal 2.500–3.000 liter/hari. Sebaliknya, gara-gara Pertamax mencapai Rp9.350/liter, kini konsumen ramai-ramai beralih menggunakan premium. “Sekarang permintaan premium naik sekitar 20%.Ya,siapa pun juga kalau beda harganya sudah dua kali lipat pasti milih premium,”ujar dia. Berkurangnya jumlah konsumen pengguna Pertamax ini terjadi sejak harga Pertamax mulai merangkak naik menjadi Rp7.000–Rp8.000/ liter. Puncaknya, penyusutan terjadi pada Februari, di mana harga Pertamax mencapai Rp9.000/liter.

Untuk menyiasati kerugian, ujar Arif, pihaknya baru akan melakukan order saat stok mulai menipis. Hal ini dilakukan untuk menghindari kerugian jika tiba-tiba harga minyak turun lagi. Gara-gara penurunan order ini pula, Arif mengaku kecewa karena SPBU yang sebelumnya masuk kategori Gold terpaksa berubah status. “Kita juga minta Pertamina bijaksana. Syarat untuk mendapat kategori Gold yang mengharuskan DO meningkat 15% dari tiga bulan sebelumnya harus diubah.Karena kalau harga sedang tinggi seperti ini, kita kesulitan meningkatkan penjualan.

Boro-boro naik,mempertahankan saja sulit,”ujar dia. Gara-gara beda harga yang sangat mencolok ini, kata Arif, konsumen Pertamax akhirnya banyak mengoplos.Ini mereka lakukan dengan cara mencampur premium dengan Pertamax pada mesin kendaraan mereka. Sayangnya, hal ini justru tidak efektif karena dua jenis BBM tersebut memiliki oktan yang berbeda, yakni 87 untuk premium dan 92 untuk Pertamax.“ Mereka beli 10 liter Pertamax dan 10 liter premium, lalu dicampur seperti oplos begitu,” ujarnya. Arif bahkan memperkirakan harga Pertamax yang saat ini Rp9.350 ini masih bisa bergerak mencapai Rp10.000/ liter. Pernyataan itu diungkapkannya karena Timur Tengah masih bergejolak. Sebagai negara penyuplai minyak dunia terbesar hal itu nilainya akan sangat mempengaruhi kenaikan harga minyak dunia. Sementara itu, penurunan konsumsi Pertamax ini juga dibenarkan External Relationship PT Pertamina UPms II Palembang Roberth MVD. Pada Februari misalnya, konsumsi Pertamax turun 70.000 liter dari sales Januari sebanyak 1.130.000 liter.

Menurut dia,penurunan itu disebabkan harga Pertamax yang masih jauh lebih mahal dibandingkan BBM subsidi.Jadi, meskipun konsumen tahu manfaat Pertamax bagi mesin kendaraan, mereka tetap membeli BBM subsidi.“Januari-Februari itu harga Pertamax naik akibat pengaruh minyak dunia karena harganya tinggi mencapai Rp7.550 per liter dari sebelumnya Rp7.050 (Januari). Kemudian, Februari naik lagi jadi Rp8.100,”ungkap Roberth. Demikian catatan online Asurano tentang Tiga bulan terakhir.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel