pusat kajian deradikalisasi untuk wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel)

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menetapkan Universitas Hasanuddin (Unhas) dan Universitas Muslim Indonesia (UMI) sebagai pusat kajian deradikalisasi untuk wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel). Direktur Deradikalisasi BNPT Prof Dr Irfan Idris mengungkapkan, proyek deradikalisasi di kampus sudah mendesak dilaksanakan. Sebagai tahap awal,Unhas dan UMI yang ditunjuk oleh BNPT menjadi pusat kajian deradikalisasi di Makassar. “Sekarang sudah ada pusat kajian deradikalisasi di Universitas Muhammadiyah Malang. Khusus di Makassar akan dibentuk di UMI dan Unhas.Ini adalah program kerja deradikalisasi BNPT,”kata Irfan Idris kepada media,kemarin.

Guna merealisasikan rencana itu, dalam waktu dekat, akan dilaksanakan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara pimpinan kedua kampus tersebut dengan BNPT. Dia mengungkapkan, pembentukan pusat kajian deradikalisasi bukan hanya di Unhas dan UMI. Kampus lainnya di Makassar juga akan dibentuk pusat kajian yang sama.

Hanya, kata dia keterbatasan anggaran proyek deradikalisasi sehingga hanya dua kampus ini yang menjadi skala prioritas, mewakili kampus yang berstatus negeri dan swasta. Dia berharap dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan tahun ini diprioritaskan proyek deradikalisasi agar semua kampus dibentuk lembaga yang sama. “Kita berharap semua kampus akan dibentuk pusat kajian deradikalisasi.

Untuk wilayah Sulawesi, selain di Makassar,tahap awal juga akan dibentuk di kampus Universitas Tadulako Palu Sulawesi Tengah,” ujar guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar ini. Dia mengatakan, pusat kajian ini didanai oleh BNPT sebagai salah satu program kerja lembaga yang dikepalai oleh Ansyaad Mbai. Secara teknis pelaksanaan akan diatur dalam MoU antara BNPT dengan pimpinan kedua kampus ini.Yang pasti, kata dia, pusat kajian ini tidak hanya diperuntukkan bagi kalangan akademisi, namun juga masyarakat luas.

Kedua kampus ini akan rutin menyelenggarakan diskusi dan workshop deradikalisasi untuk penguatan nilai-nilai Islam sebagai rahmatan lil alamin. Selain kalangan akademisi, para tokoh agama,organisasi keagamaan dan lembaga pendidikan lainnya akan dilibatkan dan dirangkul untuk kajiankajian menyangkut radikalisme. Tujuannya, menangkal gerakan radikalisme dan terorisme di Indonesia, terutama bagi generasi muda. Dia menjelaskan, upaya penangkalan bahaya radikalisme yang merupakan cikal bakal terorisme di Indonesia harus segera dilaksanakan.

Gerakan radikal ini, kata dia,menyasar kalangan generasi di kampuskampus. Irfan mencontohkan adanya dugaan pencucian otak yang menimpa 15 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM).“Radikalisme sebagai bahaya laten yang bisa menjadi bom waktu. Semua kelompok dimasuki terutama usia muda. Kampus adalah salah satu sasarannya,“ katanya.

Terpisah Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UMI Prof Dr Achmad Gani menyatakan kesiapan UMI menjadi pusat kajian deradikalisasi. Menurutnya, kampus sebagai pusat pembentukan generasi muda yang rentan dimasuki oleh gerakan radikal. Radikalisme ini bisa ditekan dengan pendekatan dan komunikasi, termasuk melakukan pengkajian tentang paham radikal itu sendiri. “Generasi muda Islam di kampus harus diberikan pemahaman bahwa Islam adalah ajaran yang menyejukkan dan mencintai kedamaian,” kata guru besar UMI Makassar ini.

Sementara Humas Unhas Dahlan Abubakar mengakui, belum mendapat informasi terkait rencana menjadikan kampus tersebut sebagai pusat kajian deradikalisasi. Dia menjelaskan, selama ini, internal kampus telah memantau gerakan-gerakan di dalam kampus yang berpotensi radikal. Namun, kata dia sejauh ini belum ditemukan paham yang berdampak lebih besar atau gerakan teror. Dia menegaskan Unhas menyambut baik rencana BNPT membentuk pusat kajian deradikalisasi di kampus ini.Menurutnya, gerakan radikal di dalam kampus tidak mudah diketahui.

Mahasiswa Makassar, kata dia berpotensi terpengaruh dengan gerakan radikalisme yang akan mengancam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Itu (radikal) bisa saja terjadi pada mahasiswa yang dikenal memiliki militansi. Tapi, sampai sekarang kita belum menemukan gerakan yang menjurus pada hal-hal lebih jauh,”katanya. Demikian catatan online Asurano tentang pusat kajian deradikalisasi untuk wilayah Sulawesi Selatan (Sulsel).

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel