Pengembangan sutera alam Sulsel

Pengembangan sutera alam Sulsel terkendala ketersediaan tanaman murbei dan telur yang berkualitas. Hal ini ditandai dengan rendahnya produktivitas kokon yang dihasilkan petani. Untuk 2010, produksi hanya mencapai 116.317 kilogram dan menghasilkan benang 14.994 kilogram benang.

Wakil Gubernur Sulsel Agus ArifinNu’mangdalam Workshop Peluang Pengembangan Investasi Persuteraan Alam Nasional di Kantor Kementerian Kehutanan mengungkapkan, Pemprov Sulseltengahberusaha untuk kembali membangkitkan industri sutera alam pada dua sentra produksi yakni di Kabupaten Wajo dan Soppeng. Hanya saja, petani masih terkendala pada tersedianya telur maupun tanaman murbei yang berkualitas.

Selama ini, petani hanya mengandalkan telur dan murbei lokal yang produktivitas jauh dibawah bibit impor asal China. Selain itu,petani tidak mendapatkan penyuluhan terkait pengembangan sutera alam. “Harus diakui, penurunan produksi sutera alam Sulsel dalam 10 tahun terakhir disebabkan mutu atau kualitas murbei dan telur. Karena itu, dibutuhkan pembenahan mulai pada hulu yakni petani murbei hingga hilir yakni perajin benang sutera,”jelasnya,kemarin.

Untuk sementara, guna meningkatkan produksi,Pemprov Sulsel telah memberikan stimulus kepada petani yakni pemberian telur gratis sebanyak 5.000 boks dan telah disalurkan sejak akhir 2010 lalu. Agus mengungkapkan, stimulus tersebut akan terlihat tahun. Hanya saja, telur yang disalurkan merupakan produksi lokal. “Ini salah satu langkah untuk menjadikan Sulsel sebagai sentra pengembangan sutera nasional dengan perkiraan produksi sebesar 600 ton per tahun. Saat ini saja, hampir 50% produk sutera disuplai dari Sulsel,”ungkapnya.

Guna menunjang target tersebut, Pemprov Sulsel menargetkan perluasan lahan tanaman murbei hingga 10.000 ha dengan kebutuhan telur mencapai 240.000 boks per tahun. Jika target tersebut terpenuhi, Sulsel akan menghasilkan kokon hingga 4.200 ton per tahun yang ditaksir mampu menghasilka benang hingga 600 ton. Karena itu,Wagub meminta agar Kementerian Kehutanan turun tangan dan mengaktifkan kembali Balai Persuteraan Alam di Kabupaten Gowa yang tidak berfungsi maksimal.

Selain itu, alat pemintalan benang sutera yang ada di Kabupaten Soppeng, juga akan dibenahi mengingat suplai bahan baku berupa kokon masih terbatas. Mantan Ketua DPRD Sulsel ini menyarankan, agar sutera alam menerapkan pola pengembangan seperti rumput laut. Sehingga, terjadi kesepakatan lintas kementerian mulai dari hulu hingga hilir.“Seperti Kementerian Kehutanan pada kebijakan produksi murbei dan kokon serta Kementerian Perdagangan atau Perindustrian dari segi pemasarannya,” tukasnya.

Menurutnya, jika hal tersebut diterapkan,petani dan perajin akan lebih bergairah dalam pengembangan sutera. Apalagi, harga sutera sutera saat ini berada pada posisi Rp650.000 per kilogram dari yang sebelumnya hanya Rp180.000 per kilogram. Sebagai perbandingan, untuk satu hektar lahan tanaman murbei, diperkirakan bisa menghasilkan Rp2,3 juta dalam waktu 36 hari. “Kalau kualitas petani,saya menjamin mereka sudah pintar. Sisa diarahkan bagaimana budidaya yang baik.

Makanya ada rencana untuk berangkat ke China menyaksikan bagaimana pengembangan sutera disana,” tukasnya. Kepala Dinas Kehutana Sulsel, Syukri Mattinetta menambahkan, pihaknya akan kembali memperjuangkan pemberian stimulus kepada petani berupa kokon gratis pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2011 mendatang. Menurutnya, dalam APBD-P 2010,pihaknya sudah mengalokasikan anggaran Rp900 juta.

”Kami akan terus mengawal pengembangan sutera ini dan akan mengalokasikan dalam APBD perubahan penyediaan telur gratis sebagai stimulus kepada petani,”jelasnya ,kemarin. Terkait target produksi benang sutera hingga 600 ton, mantan Wakil Kepala Dinas Pertanian ini mengungkapkan, pihaknya menargetkan target produksi tersebut tercapai 2013 mendatang.

Saat ini, luas tanamanmurbeiyangadahanya sekitar 2.542 ha. Ini tersebar pada dua sentra produksi utama yakni Soppeng dan Wajo. Untuk mencapai target 10.000 ha, dipilih 11 daerah penunjang penyediaan tanaman murbei diantaranya Kabupaten Maros, Gowa, Luwu Timur, Luwu Utara,danTanaToraja. Demikian catatan online Asurano tentang Pengembangan sutera alam Sulsel.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel