Kata fitnah dirasakan dan dihayati

Kata fitnah dirasakan dan dihayati semua presiden di Indonesia atau mungkin di dunia ini. Para presiden Indonesia, mulai dari Soekarno, Soeharto, BJ Habibie, KH Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, hingga terakhir Susilo Bambang Yudhoyono, pernah menikmatinya. ”Fitnah” itu bisa dirasakan pada masa demokrasi terpimpin, demokrasi liberal, demokrasi terkekang, dan masa reformasi.

Tiap presiden punya cara sendiri untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan tentang yang disebut ”fitnah” ini. Semuanya pernah mencurahkan isi hatinya (curhat) tentang ini kepada rakyat. Soekarno atau Bung Karno, yang besok akan dirayakan hari kelahirannya ke-110 (lahir 6 Juni 1901), sering curhat tentang berbagai hal yang dialaminya. Misalnya, tentang kerja keras atau kebanggaan terhadap karya-karyanya.

Dalam diskusi di perpustakaan pribadi anggota kelompok Nasional Indonesia, SS Nitisaputra, di Puri Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (19/5/2011), dibahas kumpulan 61 karangan Bung Karno dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi cetakan kelima. Tulisan itu sebelumnya tersebar di berbagai penerbitan tahun 1926-1941. Selain itu, juga dibahas karangan penulis perempuan asal Amerika Serikat, Cindy Adams, berjudul Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia cetakan ketujuh tahun 2001. Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Presiden pertama Republik Indonesia ini curhat panjang lebar tentang sakit hatinya terhadap. Demikian catatan online Asurano tentang Kata fitnah dirasakan dan dihayati.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel